Jumat, 02 Juli 2010

Keserupaan Islam dengan Marxisme tentang Keadilan Sosial Manusia


(Achmad Fajar Dali Sutrisno)



Pendahuluan

Akan banyak kalangan Muslim yang menolak untukl menerima ataupun mengadopsi paham serta argumen Marx dalam kehidupan. Terlebih ketika ini harus disandingkan dengan Quran. Penyebanya mungkin karena ajaran Marx tentang materialisme ini dinilai berujung pada penafikan adanya Tuhan, sangat jelas bertolakbelakang dengan konsep Islam yang menjunjung tinggi nilai ketauhidan.

Sebut saja misalnya Ali Syariati, seorang tokoh revolusioner Iran, yang sangat keras mengecam atau menolak marxis. Dalam tulisannya ia menilai bahwa Islam sangat bertolak belakang dengan Marxisme dan Kapitalisme. Namun di tengah kerasnya kecaman terhadap Marx, terdapat salah satu bagian tulisan dimana Syariati seolah mengangkat Marx atau mendukung gagasan Marx, ia mengkategorikan jiwa Marx ke dalam dua bagian, Marx sang filsuf dan Marx sang sosiolog. Di dalam karya Syariati terkait dengan penilainnya terhadap Marx tersebut tertulis:

(Marx sang Filsuf ketika berbicara tentang pembebasan manusia, ia adalah seorang yang sangat humanis rohani yang memuji hakikat kemanusiaan yang sejati, merdeka dan suci sebagai sumber murni dari sifat-sifat kebaikan dan suatu sifat transendental, serta bebas, lebih mulia daripada segenap makhluk lainnya)[1].

Khususnya di Indonesia, pada era pemerintahan Suharto, wacana tentang Marxisme menjadi hal yang tabu bahkan mungkin dilarang, karena trauma atas pemberontakan-pemberontakan berdarah yang dilakukan PKI (Partai Komunis Indonesia), yang banyak memakan korban jiwa dari kalangan pemuka agama, dan para orang kaya. Ideologi komunis yang menjadi landasan fikir partai ini merupakan adopsi dari paham sosialis luar Indonesia seperti Leninisme, Stalinisme, Maoisme yang juga merupakan turunan dari Marxisme. Dikhawatirkan ketika Marxist merebak di Indonesia, komunis pun akan berkembang, dan neo PKI akan muncul. Maka tidak heran ketika Abdurrahman Wahid pada masa pemerintahannya mencabut TAP MPRS nomor 2 Tahun 1966, tentang dilarangnya paham komunis berkembang di Indonesia, Gus Dur justru mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Namun tanpa disadari mereka yang berbicara tentang keadilan sosial, kesamarataan, dan perjuangan Hak Asasi Manusia dengan mengatasnamakan Quran, secara langsung atau tidak sebenarnya sudah mengadopsi paham Marx (mengenai hal ini lebih lanjut dibahas pada alinea-alinea berikutnya). Artinya terdapat keserupaan antara Marxisme dan Quran, dan tulisan ini berusaha menjelaskan serta mencari keserupaan antara keduanya.

Pembahasan

Setiap manusia tentu tidak menginginkan dirinya dizhalimi, ditindas, diperas, dan diinjak-injak harga dirinya. Keadilan, kebebasan dan kemerdekaan adalah dambaan bagi setiap orang. Perasaan inilah yang mendorong bangsa-bangsa yang pernah menjadi koloni berusaha untuk memerdekakan diri dari penjajahan.

Namun penindasan ini tidak hanya dalam bentuk imperialisme suatu bangsa terhadap bangsa lainnya. Penindasan juga dapat terjadi pada satu masyarakat yang berada dalam wilayah dan sistem kemasyarakatan yang sama. Seorang pembantu disiksa oleh sang majikan, dan diperlakukan seolah bukan manusia, buruh yang mendapat penghasilan berupa gaji kurang dari satu juta rupiah perbulan harus datang ke pabrik jam delapan pagi, sementara bos atau pemilik perusahaan dengan mobil mewahnya, serta pakaian rapi berdasi dengan santai boleh datang ke kantor walaupun sampai hampir jam sebelas. Demikian hanlnya dengan wakil rakyat yang berdiskusi tentang pemecahan masalah kemiskinan, disisi lain ia justru sibuk menyiapkan strategi untuk memperkaya diri dengan jalan korupsi. Secara langsung maupun tidak, perlakuan-perlakuan ini terkategorikan sebagai bentuk penindasan.

Kondisi yang demikian masih kerap terjadi dan jika dicermati, walaupun bukan berada dalam suatu sistem kemasyarakatan yang berstrata sosial, ternyata secara tersirat masih terdapat pula kelas-kelas sosial di dalamnya yang terbedakan bukan hanya dilihat dari keadaan ekonomi seseorang tetapi juga dari gelar dan/atau jabatan. Seorang hartawan, pengusaha, keluarga raja, ataupun kiyai akan lebih terhormat dan lebih dihargai di mata masyarakat dibandingkan pengemis, gembel, orang miskin, budak dll. Singkatnya secara umum terdapat dua kelas sosial yang bersifat vertikal yaitu borjuis/kapitalis (kelas atas) dan proletar (kelas bawah). Maka dalam keadaan ini esensi keadilan sosial di masyarakat perlu dipertanyakan.

Kondisi serupa juga terjadi pada masyarakat Mekah sebelum datangnya Islam. Pejabat birokrat, pengusaha dan juru ibadah setempat mendapat tempat terhormat tidak setara dengan kaum budak. Bahkan keluarga Muhammad pun termasuk golongan yang termasuk yang disegani. Abu Thalib, paman Muhammad adalah juru kunci ka’bah (mewarisi ayahnya/ kakek Muhammad, Abdul Muthalib) –ini yang membuat para Quraisy sulit untuk menghentikan dakwah Muhammad, baru setelah Abu Thalib wafat intimidasi dari Quraisy semakin gencar-, Abu Sufyan, juga merupakan paman Muhammad, adalah seorang konglomerat. Kedua tokoh ini keberadaanya cukup disegani di Mekah. Banyak lagi tokoh lainnya yang merasa diri nyaman berada pada kelas sosial atas.

Maka kehadiran Islam yang dipelopori oleh Muhammad, yang menekankan pada kesamaan harkat,derajat dan martabat manusia, serta menjunjung tinggi keadilan, ini membuat resah mereka yang telah ada dalam posisi kelas sosial yang “nyaman”. Pemuka agama dan juga para dukun merasa terganggu akan kehadiran agama baru ini (Islam), bukan hanya karena perbedaan cara ibadah atau pujaan/sesembahan, tetapi juga karena eksistensi kehormatan dan status mereka terancam atau akan menjadi setara dengan jemaah –dalam Islam semua manusia pada hakikatnya sama yang membedakan adalah ketaqwaan terhadap Tuhannya-. Konglomerat tentu merasa terhina ketika mereka disetarakan dengan budak. Maka wajar jika syiar Muhammad ini kemudian mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan masyarakat Mekah pada waktu itu[2].

Perjuangan Muhammad yang dilakukan secara kontinyu akhirnya dapat meluluhkan keadaan ini –sering disebut oleh para ulama sebagai zaman Jahiliyah. Berbagai strategi untuk merevolusi Arab dari Jahiliyah menuju masayarakat madani, dari masyarakat berkelas-kelas menjadi masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan sosial dan kesetaraan harkat, derajat, martabat dapat diwujudkan dengan petunjuk Quran, sasarannya adalah menyelamatkan orang-orang tertindas, dan orang-orang tak berdayadan memerangi para penindas seperti para mala’ (aristrokrat), muthraf. (perhatikan Surat Al A’raf: 29 dan Surat Al Hadid : 25)

Namun disisi lain Murtadha Muthahari berpendapat bahwa Islam telah mampu pengikut dan pendukung dan pengikut dari golongan-golongan yang sebelumnya diperangi. Membuat sekelompok orang berperang melawan kelompoknya sendiri, bahkan menyebabkan seorang individu memberontak melawan kejahatannya sendiri adalah apa yang telah dilakukan Islam secara luas sepanjang sejarahnya.[3] Seperti yang terjadi pada syiar Muhammad, dimana ia berhasil mengajak beberapa sosok Quraisy (Umar bin Khathab, Hamzah) yang tadinya sangat memusuhi Islam atau ada dipihak lawan jadi sebaliknya, membela Islam dan menjadi sebuah kekuatan baru dalam dakwah Islam pada masa itu. Selain itu masuknya beberapa orang kaya / pengusaha sukses (Khadijah, Abu Bakar) ke dalam Islam turut menjadi penyokong dakwah Muhammad. Maka dapat dikatakan bahwa Islam adalah sebuah strategi atau teori kemenangan manusia atas kehewanan, kemenangan ilmu atas kejahilan, kemenangan persamaan atas diskriminasi, kemenangan kebajikan atas kejahatan. [4]

Ketika ajaran Islam ini tegak/ berdiri (qiyamah), dan dapat diterapkan ke dalam kehidupan manusia, maka mereka akan menyaksikan hasil dari apa yang telah mereka perbuat dan setiap perbuatan ini akan mendapat balasan yang setimpal (hukum yang telah ditegakkan), pada hari kebangkitan. Sistem-sistem --yang membuat para penguasa nyaman pada posisinya, sedangkan di sisi lain rakyat jelata diperlakukan tidak adil dan tidak manusiawi— akan hancur bagaikan gunung yang mendapat goncangan dari tanah, dan berubah menjadi tumpukan pasir yang berterbangan. (Perhatikan Surat Al muzzamil : 14, Surat Al Qoriah

Demi menegakkan Islam ini dan memunculkan sebuah revolusi memang butuh begitu banyak perjuangan dan usaha sesuai dengan firman Allah (Ar Ra’d : 11) “Allah takkan merubah nasib suatu kaum melainkan kaum itu sendiri yang merubahnya”.

Marxisme dan Islam

Marxisme (dipelopori oleh Karl Marx, berkebangsaan Jerman) adalah sebuah ideologi yang sangat menekankan kesamaarataan, kebebasan dan keadilan sosial manusia. Pemikiran Karl Marx sendiri dipengaruhi oleh 3 komponen penting dari pemikiran yang paling maju pada masa itu, yaitu filsafat klasik Jerman, sosialisme Perancis dan ekonomi Inggris. [5]

Pengaruh dari filsafat klasik Jerman adalah dialektika yang dipelopori Hegel, yang pada gilirannya dikembangkan oleh Marx dan rekannya F. Engels menjadi materialisme dialektik, kemudianberkembang lagi menjadi materialisme historis.

Materialisme dialektik berpandangan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari materi berarti tiap-tiap benda atau kejadian dapat dijabarkan kepada materi atau salah satu proses material. Filsafat Marx ini tampak ada dualitis, ia menganggap bahwa alam ini terdiri dari dua kenyaataan; materi dan ide atau consciousness. Dan materilah yang merupakan faktor primer sedangkan ide adalah sekunder. Dengan demikian, marx menilai bahwa dunia ini konstan baik dalam gerak, perkembangan maupun regenerasinya.

Revolusi Perancis pada abad 18 telah memperjelas kesengsaraan kaum buruh dan sekaligus mengundang para pemikir unuk memperhatikan dan memperbaikai nasib mereka itu. Namun para pemikir ini dianggap oleh Marx sebagai utopian, memikirkan pembentukan masyarakat tanpa realisasi. Dan dari sejarah perkembangan perancis itu Marx mereduksi ajarannya tentang Class Struggle. Feodalisme yang dianut para borjuis di Perancis telah memproletarkan rakyat jelata.

Inggris sebagai negara kapitalis yang telah maju mengembangkan politik ekonomi klasiknya, yang teori-teori dasarnya diletakkan oleh Adam Smith dan David Ricardo (labor of theory value). Dalam teori ini dinyatakan bahwa nilai suatu barang terletak pada sejumlah tenaga yang diperlukan untuk membuatnya. Tanggapan Marx atas teori tersebut, jika nilai itu terletak dalam tenaga yang dipergunakan untuk membuatnya, mengapa nilai tersebut tidak diberikan kepada manusia yang membuatnya.

Para kapitalis menguasai alat produksi, dengan kelas proletar yang tenaga kerjanya dibeli oleh kapitalis demi mendapatkan laba. Secara bersamaan, kerkuatan-kekuatan dan hubungan-hubungan produksi ini membentuk apa yang disebut Marx sebagai Infrastruktur, yang kemudian memunculkan Superstruktur berupa hukum, politik dan bentuk negara. Selain superstruktur juga berupa kesadaran sosial yang bersifat politis, etis, estetis relijius dsb, yang oleh kalngan marxis dianggap sebagai ideologi. Sebagaimana superstruktur, ideologi juga berfungsi untuk melegitimasi kekuasaan kelas yang berkuasa dalam masyarakat. [6]

Berbagai argumen Marx, penekannya terlihat bahwa peranan materi dalam kehidupan sangatlah penting. Tetapi memosisikan materi /ekonomi sebagai hal yang signifikan, tidak berarti memuja-muja materi tersebut. Maka dari itu setiap orang pun memiliki hak atas pendapatan materi dan pengembangan diri demi tercapainya kemapanan ekonomi. Dan bagi mereka yang ekonominya mapan, sepatutnya membantu dalam menyokong materi kepada mereka yang lemah, dalam usahanya mencapai kemapanan ekonomi. Sistem ini dalam Islam dikenal dengan sebutan zakat.

Seperti pada bagian awal tulisan ini, tertulis argument-argumen Marx sering kali ditolak oleh para teis karena dinilai selalu berujung pada penafikan adanya Tuhan. Namun perlu diingat bahwa misi intelektual marx vukanlah meneriakan tidak adanya Tuhan, tetapi untuk membongkar sejelas-jelasnya proses pemiskinan sebagian besar umat manusia modern dan bagimana mereka sesudah itu berkembang seterusnya dalam kepapaan.[7]

Selain itu Marxisme bukanlah filsafat atheis melainkan filsafat distribusi, yakni filsafat yang menghendaki pemerataan sumber daya agar sebanyak mungkin manusia bekesempatan mewujudkan harkat kemanusiaannya. [8] Monopoli atas sumber daya alam yang keberadaanny sangat dibutuhkan masyarakat umum perlu dihilangkan. Tentang ini dalam redaksi Quran pun tertulis “Dialah yang menjadikan apa-apa yang ada di bumi untuk kalian semua”. (QS Al Baqoroh : 29).[9]

Marx juga sangat m,engecam feodalisme dimana terjadi hubungan perbudakan antara majikan dan budak. Seolah majikan adalah manusia yang lebih mulia dari pada budak, sehingga perserpsi yang muncul kemudian adalah budak harus mengabdi kepada sang majikan. Bukan hanya Marx yang mengecam tindakan tersebut, Islam pun juga demikian. “Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepadaku” (QS Adz Dzariyat : 56)

Penutup

Sungguh berbagai persepsi luhur tentang keadilan sosial yang berasal dari berbagai ideologi apapun, tidak perna tercapai tanpa adanya perjuangan dan keberanian melawan arus kebobrokan zaman. Namun saying sikap eksklusif penganut masing-masing ideologi sering kali menjadi hambatan dalam mewujudkan cita-cita luhur tersebut, hingga terkesan hal ini begitu utopis.

Bukanlah perbedaan antara ideologi yang harus dicari, tetapi justru kesamaan atau titik temu dari masing-masing. Dalam kasus ini telah dijelaskan bahwa ternya bayak kesamaan-kesamaan antara Islam dan Marxisme. Walaupun kenyataan di lapangan penganut marxisme yang telah berwujud menjadi komunis-sosialis sering kali menunjukan sikap-sikap yang cenderung anarkis, berupa pemberontakan-pemberontakan berdarah. Sebut saja beberapa revolusi yang pernah terjadi di berbagai belahan dunia atas nama komunis-sosialis, lebih jauh lagi mereka bahkan terkadang anti agama, seperti trgedi Bolshevik di Uni Soviet, Mao di China dan tidak ketinggalan pemberontakan PKI Madiun dan Jakarta di Indonesia.

Padahal itu semua merupakan bentuk penyimpangan dari apa yang disebutoleh Karl Marx sebagai perwujudan keadilan sosial, perjuangan kelas (class struggle) dan pembebasan manusia.


[1] Perhatikan karya tulisan Syariati yang berjudul “Kemanusiaan antara Marxisme dan Agama” judul Asli “Humanity between Marxism and Religion”, terhimpun dalam (Islam antara Visi, Misi dan Hegemoni bukan Muslim) penyunting : Mochtar Prabotinggi hal.102

Bandingkan dengan alinea-alinea sebelumnya.

[2] Bahkan terkait hal ini Murtadha Muthahhari berpendapat, ketika Muhammad SAW diutus, ia memaklumi revolusi melawan kelas penguasa, hartawan dan pemakan riba. Al Quran menyebut mereka dengan sebutan mala’yakni kaum bangsawan dan para hartawan Mekkah, sedangkan para pengikut Muhammad terdiri dari rakyat tertindas seperti Ammar, Salman, Abu Dzar, dll.

Lihat. Perpektif Quran tentang Manusia dan Agama, karangan Murtadha Muthahari

[3] Ibid hal.104

[4] Ibid hal.105

[5] Aliran-aliran Filsafat dan Etika karangan Prof. Dr. Juhaya S. Praja hlm. 152

[6] Marxisme dan Kritik Sastra karangan Terry Eagleto hlm.12l

[7] Islam antara Visi, Misi dan Hegemoni Bukan Islam karangan Mochtar Prabotinggi hlm. 208

[8] Ibid hlm. 209

[9] Ayat ini menerangkan bahwa seluruh kekayaan alam yang terdapat di bumi adalah untuk dikelola manusia, bukan dimiliki oleh segelentir orang



Daftar Rujukan Buku


Eagleton, Terry, (2002), Marxisme dan Kritk Sastra (judul asli: Marxism and Literary Criticism) penerjemah Zaim Rafiki, Depok : Desantara

Muthahari, Murtadha, (1992), Perspektif Quran tentang Manusia dan Agama (karya terjemahan), Bandung : Mizan

Praja, Juhaya S, (2003), Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Jakarta : Kecana

Penyunting: Prabotinggi, Mochtar (1986), Islam: Antara Visi, Misi, Tradisi dan Hegemoni Buka Islam, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

Daftar Rujukan Non Buku

Mata Kuliah Sosiologi, dosen: bpk. Syamsul Arifin

Mata Kuliah Tafsir Maudhui, dosen: bpk. Andy Hadiyanto

Pengajian Pondok Pinang, pengajar: bpk. Fuad A Saad dan Djunaedi


Fitrah Manusia dan Kaitannya dengan Pendidikan

Secara etimologis, asal kata fitrah berasal dari kata bahasa arab, yaitu فِطْرَةٌ jamaknya فِطَارٌ artinya perangai, tabiat, kejadian asli, agama, ciptaan[1]. Sedangkan dalam tinjauan terminologis ada beberapa pakar yang berpendapat tentang pemaknaan istilah tersebut, kali ini akan diambil dua pendapat misalnya Quraish Shihab yang mengutip dari pendapat Muhammad Ibnu Asyur, Fitrah adalah suatu sistem yang diwujudkan oleh Allah pada setiap makhluk, dan untuk manusia berkaitan dengan jasad dan akal (ruh). Sedangkan menurut al-Raghib al-Asfahaniy, fitrah adalah mewujudkan dan dan mengadakan sesuatu menurut kondisi yang dipersiapkan untuk melakukan peruatan tertentu.[2]

Pada dasarnya manusia terlahir dalam keadaan tidak berdaya, tidak memiliki pengetahuan apapun, namun dibekali segenap potensi baik berupa fisik maupun non fisik yang kemudian berkembang dan menjadi alat dalam menggeluti kehidupannya. Secara fisik manusia dengan hewan, sama-sama memiliki organ-organ tubuh dan pada saat kemudian fungsi dari organ-organ tersebut akan rusak dan mati. Selain itu manusia dan hewan juga sama-sama mengalami proses adaptasi dengan lingkungan, berinteraksi dengan makhluk lain baik sejenis maupun tidak sejenis, serta sama-sama memiliki kebutuhan demi kelangsungan hidupnya.

Hal yang membedakan antara manusia dengan hewan yaitu manusia diberkahi potensi yang berupa akal budi, yang tewujud dalam fikir, rasa (etik) dan naluri terhadap keindahan (estetik). Potensi inilah yang kemudian menjadi alat manusia dalam menghadapi kehidupannya dan ia juga memiliki kemerdekaan untuk mengembangkan potensi tersebut hingga seutuhnya menjadi manusia sejati.

Terkait dengan penjelasan ini di dalam redaksi Quran tertulis:

وَ اللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْءًا، وَ جَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak berdaya, tidak tahu apapun, kemudian IA jadikan (berkahi) kalian dengan pendengaran, penglihatan dan akal budi, supaya kalian bersyukur” (An-Nahl: 78)

Melalui akal budinya, ia mampu menemukan hukum-hukum dasar dari alam dan menguasai pandangan menyeleruh terhadap kesemestaan. Berbagai sistem kehidupan terwujud dalam budaya, tradisi, serta seperangkat norma dan nilai, yang juga merupakan produk atau manifestasi dari akal budinya. Bahkan bisa jadi agama yang berisi seperangkat aturan, norma-norma juga merupakan produk dari akal budi manusia yang didasari oleh kecenderungan bersandar pada kekuatan transenden di luar diri manusia, atau lazim disebut Tuhan. Keseluruhan kondisi manusia yang semacam ini merupakan fitrah, disamping masih banyak jenis fitrah lainnya.

Dari kondisi manusia yang awalnya sama sekali tidak berdaya, tentu ada proses pembekalan yang berjalan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia itu sendiri, hingga manusia memiliki segenap wawasan pengetahuan dan pengalaman hidup, dan proses ini disebut pendidikan. Implikasinya dengan fitrah, maka pendidikan berarti suatu usaha atau proses untuk mengoptimalkan fungsi potensi diri yang merupakan fitrah manusia, atau dalam surat An-Nahl : 78 di atas, dianalogikan dengan istilah “bersyukur”, sehingga manusia sesuai dengan predikatnya sebagai khalifah di muka bumi serta tunduk hanya kepada Tuhan dan merdeka dari segala ketertindasan.

Disamping itu terdapat satu hadis yang menerangkan dengan keterlibatan orang tua dan/atau lingkungan pendidikan dan kaitannya dengan fitrah manusia ini:

مَا مِنْ مَوْلُدٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُشَرِّكَانِهِ (رواه البخارى والمسلم عن أبى هريرة)

setiap anak yang terlahir dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tua (lingkungan)-nyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, Majusi ataupun Musyrik(riwayat Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)


Pendidikan dimulai sejak manusia terlahir ke dunia, dan tentunya orang tua sebagai lingkungan terdekat pertama kali turut berperan penting, khusunya pada aspek moral.digambarkan dalam dalil tersebut bahwa orang tua adalah yang pertama kali menanamkan bekal pendidikan kepada anak, sebelum sang anak mengenal lingkungan sosial lebih jauh.



[1] Kamus Arab – Indonesia , karangan Mahmud Yunus

[2] Prof. Dr. Muhaimin, MA, dkk, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, 2005, Jakarta: Kencana hal. 25

Gundul-Gundul Pacul

Saudara Sekalian, pada kesempatan kali ini, saya bukan ingin mengupas dalil-dalil yang menjadi rujukan umat Islam, yaitu berupa ayat quran maupun hadis-hadis Rasulullah SAW. Tetapi yang akan saya bahas kali ini adalah sebuah tembang jawa, yang justru bukan merupakan sumber petunjuk normatif umat Islam. Namun demikian, bagi saya hal ini tetaplah penting untuk didakwahkan, karena nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tembang ini secara kontekstual dapat dikatakn bersifat Islami juga.

Anda mungkin bukan termasuk suku Jawa, tetapi saya fikir anda sering atau paling tidak pernah mendengar tembang jawa yang akan saya kupas maknanya ini. Tembang tersebut adalah Gundul-Gundul Pacul .

Entah siapa pencipta tembang ini, sampai sekarang saya belum tahu. Kata ibu saya pencipta tembang ini adalah Sunan Kalijaga, namun ada juga orang yang bilang bahwa pencipta tembang ini adalah Ranggawarsita. Bagi saya tidak penting siapa penciptanya, yang jelas tembang ini mengandung makna yang mendalam.

Perlu diakui bahwa saya bukanlah orang yang pertama kali mencoba menafsirkan tembang ini, dan pada kesempatan kali ini saya pun hanya berusaha menyambung lidah seorang Cendikiawan Muslim, Emha Ainun Najib. Saya pernah mendengar beliau berceramah menafsirkan tembang ini. Namun bukan berarti saya tidak punya ide untuk menyajikan materi ceramah kali ini. Saya fikir sebagian besar dari anda pun belum pernah tahu atau mendengar penafsirannya. Ya kan…!!

Gundul-Gundul Pacul, Gembelengan

Nyunggi-nyunggi wakul, Gembelengan

Wakul glimpang segane dadi sak latar..

Terjemahan:

Bocah gundul, gembelengan (selengek-an, tidak serius)

Menyunggi (membawa sesuatu di atas kepala) bakul (berisi nasi), gembelengan (selengek-an, tidak serius)

Bakul glimpang (jatuh ke tanah) nasinya jadi berserakan

Etika masyarakat Jawa, dalam membawa sesuatu berisi makanan tidak boleh lebih rendah dari dada. Ini dilakukan dalam rangka menghargai makanan sebagai karunia dari Tuhan. Sang gundul yang dimaksud dalam tembang ini pun sudah pasti orang Jawa, karena bahasa yang digunakan dalam tembang adalah bahasa Jawa, penciptanya pasti orang Jawa, dan pengalaman budaya pencipta tembang ini adalah etika budaya suku Jawa. Maka seperti yang tertuang pada tembang, sang gundul pun digambarkan, dalam membawa bakul berisi nasi tersebut, ia letakan di atas kepala atau dengan cara disunggi.

Jika sang gundul diibaratkan sebagi seorang pemimpin dan sega/nasi adalah umat yang dipimpin, sudah selayaknya pemimpin tersebut memosisikan umat lebih tinggi, bukan malah sebaliknya, sehingga yang terjadi adalah sang pemimpin merasa lebih terhormat, lebih suci daripada umat yang menjadi tanggungannya, misalnya pemimpin agama merasa lebih suci dari pada jemaahnya, lantas para jemaah wajib mengindolakan dan mengagungkan sang pemimpin agama tersebut. contoh lainnya Pemimpin negara merasa lebih terhormat dan berwibawa daripada rakyatnya sehingga yang terjadi bukan pemimpin yang menanggung nasib rakyat tetapi rakyat menanggung nasib pemimpin dan menjaga kewibawaannya. Selain dua contoh itu mungkin masih banyak, tetapi saya tidak akan lanjutkan, saya kahwatir dosa saya bertambah karena dengan memberikan dua contoh pemimipin tersebut berarti saya telah ngomongin orang.

Kembali pada pembahasan, bakul dalam tembang tersebut ibarat wadah yang menaungi umat. Jika pemimpin yang dimaksud adalah presiden maka wadah umat adalah negara dan umatnya adalah rakyat, jika ulama maka wadahnya adalah majelis ta’lim dan umatnya adalah para jemaah, jika pemimpin yang dimaksud adalah seorang ayah, maka wadahnya adalah keluarga dan umatnya adalah anggota keluarga.

Dalam tembang ini pun digambarkan bahwa sang Gundul tidak serius menyunggi bakul yang berisi Nasi. Akhirnya bakul pun jatuh ke tanah dan nasinya berserakan. Begitu juga dengan seorang pemimpin, ia harus serius dalam kepemimpinannya, nasib umat yang berada dalam wadahnya sangat tergantung padanya. Maka seorang pemimpin haruslah serius dalam memimpin dan mampu menjaga kestabilan sesuatu yang dipimpinya, sehingga harga diri dan nasib umat tetap terjaga. Ini harus diterapkan agar sang pemimpin tidak bernasib seperti sang Gundul, umat juga tidak bernasib sama dengan nasi yang disunggi oleh sang gundul.

Demikian ceramah saya, semoga bermanfaat bagi anda yang berperan sebagai pemimpin. Jika anda merasa tidak sedang menjabat kepala instansi, ketua RT, RW, Kelurahan, dan sebaginya, paling tidak anda saat ini sedang menjabat sebagai seorang kepala keluarga. Jika anda pun bukan seorang kepala keluaga, tidak berarti anda bukan seorang pemimpin, paling tidak anda adalah pemimpin bagi diri anda sendiri.