Secara etimologis, asal kata fitrah berasal dari kata bahasa arab, yaitu فِطْرَةٌ jamaknya فِطَارٌ artinya perangai, tabiat, kejadian asli, agama, ciptaan[1]. Sedangkan dalam tinjauan terminologis ada beberapa pakar yang berpendapat tentang pemaknaan istilah tersebut, kali ini akan diambil dua pendapat misalnya Quraish Shihab yang mengutip dari pendapat Muhammad Ibnu Asyur, Fitrah adalah suatu sistem yang diwujudkan oleh Allah pada setiap makhluk, dan untuk manusia berkaitan dengan jasad dan akal (ruh). Sedangkan menurut al-Raghib al-Asfahaniy, fitrah adalah mewujudkan dan dan mengadakan sesuatu menurut kondisi yang dipersiapkan untuk melakukan peruatan tertentu.[2]
Pada dasarnya manusia terlahir dalam keadaan tidak berdaya, tidak memiliki pengetahuan apapun, namun dibekali segenap potensi baik berupa fisik maupun non fisik yang kemudian berkembang dan menjadi alat dalam menggeluti kehidupannya. Secara fisik manusia dengan hewan, sama-sama memiliki organ-organ tubuh dan pada saat kemudian fungsi dari organ-organ tersebut akan rusak dan mati. Selain itu manusia dan hewan juga sama-sama mengalami proses adaptasi dengan lingkungan, berinteraksi dengan makhluk lain baik sejenis maupun tidak sejenis, serta sama-sama memiliki kebutuhan demi kelangsungan hidupnya.
Hal yang membedakan antara manusia dengan hewan yaitu manusia diberkahi potensi yang berupa akal budi, yang tewujud dalam fikir, rasa (etik) dan naluri terhadap keindahan (estetik). Potensi inilah yang kemudian menjadi alat manusia dalam menghadapi kehidupannya dan ia juga memiliki kemerdekaan untuk mengembangkan potensi tersebut hingga seutuhnya menjadi manusia sejati.
Terkait dengan penjelasan ini di dalam redaksi Quran tertulis:
وَ اللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْءًا، وَ جَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak berdaya, tidak tahu apapun, kemudian IA jadikan (berkahi) kalian dengan pendengaran, penglihatan dan akal budi, supaya kalian bersyukur” (An-Nahl: 78)
Melalui akal budinya, ia mampu menemukan hukum-hukum dasar dari alam dan menguasai pandangan menyeleruh terhadap kesemestaan. Berbagai sistem kehidupan terwujud dalam budaya, tradisi, serta seperangkat norma dan nilai, yang juga merupakan produk atau manifestasi dari akal budinya. Bahkan bisa jadi agama yang berisi seperangkat aturan, norma-norma juga merupakan produk dari akal budi manusia yang didasari oleh kecenderungan bersandar pada kekuatan transenden di luar diri manusia, atau lazim disebut Tuhan. Keseluruhan kondisi manusia yang semacam ini merupakan fitrah, disamping masih banyak jenis fitrah lainnya.
Dari kondisi manusia yang awalnya sama sekali tidak berdaya, tentu ada proses pembekalan yang berjalan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia itu sendiri, hingga manusia memiliki segenap wawasan pengetahuan dan pengalaman hidup, dan proses ini disebut pendidikan. Implikasinya dengan fitrah, maka pendidikan berarti suatu usaha atau proses untuk mengoptimalkan fungsi potensi diri yang merupakan fitrah manusia, atau dalam surat An-Nahl : 78 di atas, dianalogikan dengan istilah “bersyukur”, sehingga manusia sesuai dengan predikatnya sebagai khalifah di muka bumi serta tunduk hanya kepada Tuhan dan merdeka dari segala ketertindasan.
Disamping itu terdapat satu hadis yang menerangkan dengan keterlibatan orang tua dan/atau lingkungan pendidikan dan kaitannya dengan fitrah manusia ini:
مَا مِنْ مَوْلُدٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُشَرِّكَانِهِ (رواه البخارى والمسلم عن أبى هريرة)
“ setiap anak yang terlahir dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tua (lingkungan)-nyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, Majusi ataupun Musyrik”
Pendidikan dimulai sejak manusia terlahir ke dunia, dan tentunya orang tua sebagai lingkungan terdekat pertama kali turut berperan penting, khusunya pada aspek moral.digambarkan dalam dalil tersebut bahwa orang tua adalah yang pertama kali menanamkan bekal pendidikan kepada anak, sebelum sang anak mengenal lingkungan sosial lebih jauh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar