Jumat, 02 Juli 2010

Gundul-Gundul Pacul

Saudara Sekalian, pada kesempatan kali ini, saya bukan ingin mengupas dalil-dalil yang menjadi rujukan umat Islam, yaitu berupa ayat quran maupun hadis-hadis Rasulullah SAW. Tetapi yang akan saya bahas kali ini adalah sebuah tembang jawa, yang justru bukan merupakan sumber petunjuk normatif umat Islam. Namun demikian, bagi saya hal ini tetaplah penting untuk didakwahkan, karena nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tembang ini secara kontekstual dapat dikatakn bersifat Islami juga.

Anda mungkin bukan termasuk suku Jawa, tetapi saya fikir anda sering atau paling tidak pernah mendengar tembang jawa yang akan saya kupas maknanya ini. Tembang tersebut adalah Gundul-Gundul Pacul .

Entah siapa pencipta tembang ini, sampai sekarang saya belum tahu. Kata ibu saya pencipta tembang ini adalah Sunan Kalijaga, namun ada juga orang yang bilang bahwa pencipta tembang ini adalah Ranggawarsita. Bagi saya tidak penting siapa penciptanya, yang jelas tembang ini mengandung makna yang mendalam.

Perlu diakui bahwa saya bukanlah orang yang pertama kali mencoba menafsirkan tembang ini, dan pada kesempatan kali ini saya pun hanya berusaha menyambung lidah seorang Cendikiawan Muslim, Emha Ainun Najib. Saya pernah mendengar beliau berceramah menafsirkan tembang ini. Namun bukan berarti saya tidak punya ide untuk menyajikan materi ceramah kali ini. Saya fikir sebagian besar dari anda pun belum pernah tahu atau mendengar penafsirannya. Ya kan…!!

Gundul-Gundul Pacul, Gembelengan

Nyunggi-nyunggi wakul, Gembelengan

Wakul glimpang segane dadi sak latar..

Terjemahan:

Bocah gundul, gembelengan (selengek-an, tidak serius)

Menyunggi (membawa sesuatu di atas kepala) bakul (berisi nasi), gembelengan (selengek-an, tidak serius)

Bakul glimpang (jatuh ke tanah) nasinya jadi berserakan

Etika masyarakat Jawa, dalam membawa sesuatu berisi makanan tidak boleh lebih rendah dari dada. Ini dilakukan dalam rangka menghargai makanan sebagai karunia dari Tuhan. Sang gundul yang dimaksud dalam tembang ini pun sudah pasti orang Jawa, karena bahasa yang digunakan dalam tembang adalah bahasa Jawa, penciptanya pasti orang Jawa, dan pengalaman budaya pencipta tembang ini adalah etika budaya suku Jawa. Maka seperti yang tertuang pada tembang, sang gundul pun digambarkan, dalam membawa bakul berisi nasi tersebut, ia letakan di atas kepala atau dengan cara disunggi.

Jika sang gundul diibaratkan sebagi seorang pemimpin dan sega/nasi adalah umat yang dipimpin, sudah selayaknya pemimpin tersebut memosisikan umat lebih tinggi, bukan malah sebaliknya, sehingga yang terjadi adalah sang pemimpin merasa lebih terhormat, lebih suci daripada umat yang menjadi tanggungannya, misalnya pemimpin agama merasa lebih suci dari pada jemaahnya, lantas para jemaah wajib mengindolakan dan mengagungkan sang pemimpin agama tersebut. contoh lainnya Pemimpin negara merasa lebih terhormat dan berwibawa daripada rakyatnya sehingga yang terjadi bukan pemimpin yang menanggung nasib rakyat tetapi rakyat menanggung nasib pemimpin dan menjaga kewibawaannya. Selain dua contoh itu mungkin masih banyak, tetapi saya tidak akan lanjutkan, saya kahwatir dosa saya bertambah karena dengan memberikan dua contoh pemimipin tersebut berarti saya telah ngomongin orang.

Kembali pada pembahasan, bakul dalam tembang tersebut ibarat wadah yang menaungi umat. Jika pemimpin yang dimaksud adalah presiden maka wadah umat adalah negara dan umatnya adalah rakyat, jika ulama maka wadahnya adalah majelis ta’lim dan umatnya adalah para jemaah, jika pemimpin yang dimaksud adalah seorang ayah, maka wadahnya adalah keluarga dan umatnya adalah anggota keluarga.

Dalam tembang ini pun digambarkan bahwa sang Gundul tidak serius menyunggi bakul yang berisi Nasi. Akhirnya bakul pun jatuh ke tanah dan nasinya berserakan. Begitu juga dengan seorang pemimpin, ia harus serius dalam kepemimpinannya, nasib umat yang berada dalam wadahnya sangat tergantung padanya. Maka seorang pemimpin haruslah serius dalam memimpin dan mampu menjaga kestabilan sesuatu yang dipimpinya, sehingga harga diri dan nasib umat tetap terjaga. Ini harus diterapkan agar sang pemimpin tidak bernasib seperti sang Gundul, umat juga tidak bernasib sama dengan nasi yang disunggi oleh sang gundul.

Demikian ceramah saya, semoga bermanfaat bagi anda yang berperan sebagai pemimpin. Jika anda merasa tidak sedang menjabat kepala instansi, ketua RT, RW, Kelurahan, dan sebaginya, paling tidak anda saat ini sedang menjabat sebagai seorang kepala keluarga. Jika anda pun bukan seorang kepala keluaga, tidak berarti anda bukan seorang pemimpin, paling tidak anda adalah pemimpin bagi diri anda sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar